Kamis, 05 September 2013

Saling bersedekah dan memberi hadiah kepada non muslim


Saling bersedekah dan memberi hadiah kepada non muslim
            Dari ibnu Abas rodiallahuanhu, dari Nabi shallallahualaih wasallam: bahwa beliau memerintahkan agar umat islam tidak bersedakah selain kepada orang yang beragama islam saja, hingga turunlah ayat: Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S al-Baqoroh: 272) kemudian setelah turun ayat ini beliau memerintahkan bersedekah kepada siapapun yang memintamu apapun agamanya. (tafsir ibnu kastir: 1/703).
            Dari Said bin al-Musayyab, bahwa Rasulullah shallahualaih wasallam bersedakah kepada keluarga yang beragama Yahudi, dan sedekah itu terus mengalir kepada mereka. (al-amwal: 3/470).
            Ulama sepakat mengenai kebolehan memberi sesuatu kepada non muslim selama mereka bukan tergolong ahli harbi, sedangkan memberi non muslim yang tergolong ahli harbi maka ulama berbeda pendapat: menurut madzhab Ahmad, madzhab Muhammad bin Hasan dan pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi’I, bahwa boleh memberi sedekah ibadah kepada non Muslim secara mutlak, walaupun mereka tergolong ahli dzimmi, harbi, musta’man, atau mua’ahad, berdasarkan Firman Allah ta’ala: “dan mereka memberi makan kepada yang tercinta dari golongan orang miskin, yatim dan para tawanan”. Ibnu Qodamah berpendapat: pada waktu itu tidaklah seorang tawanan kecuali ia beragama kafir. (al-mughni; 2/659)
            Dari Asma binti abu Bakar rodiallahuanhuma, ia berkata: ibu ku mendatangiku sedangkan ketika itu ibu ku seorang yang Musyrik, kemudian aku bertanya: wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu ku mendatangiku, dan ia menginginkan ku datang kepadanya, apakah aku bersilaturahim kepadanya?, Nabi menjawab: “iya, kunjungilah ibumu”.
 Dan juga diriwayatkan Bukhori dan Muslim bahwa  Umar memngenakan hadiah kepada saudaranya yang Musyrik berupa perhiasan yang dulu Rasulullah shallallahualaih wasallam beri kepadanya. Imam Nawawi berpendapat:  hal ini menjadikan bukti kebolehan mengunjungi kerabat yang kafir, dan berbuat baik kepada mereka dan kebolehan memberikan hadiah kepada mereka.
Bahkan sebagian ahli Fiqih membolehkan pemberian zakat kepada ahli Dzimmah dari harta zakat orang muslim, diantara ulama yang membolehkan adalah: imam Zafir sahabatnya abu Hanifah dan Ubaidullah bin al-Hasan, akan tetapi jumhur ulama hanya membolehkan pemberian sedekah saja bukan zakat.
Dan selain itu, banyak pula orang non Muslim dan raja-raja yang memberikan Nabi shallallahualaih wasallam hadiah, dan beliau menerimanya, seperti pemberian hadiah dari raja Mesir  al-Qibti, sebagai mana diriwayatkan dari Aisyah rodiallahuanha, ia berkata: raja iskandar al-muqowqis memberi hadiah kepada Rasulullah shallallahualaih wasallam berupa celak hari idul fitri dan adha, cermin dan sisir. (H.R at-Thobroni)